Monday, August 2, 2010

Da'ie vs Tarbiyah Dzhatiyah


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Selawat dan salam ke atas Nabi junjungan kita Muhammad SAW, serta ahli keluarga baginda,para sahabat,tabi,tabi tabi'en serta para pendokong agama Allah SWT, Ikhwah dan akhawat yang penulis kasihi, seterusnya kepada sahabat maya sekalian. Moga kalian berada di dalam redha Allah sentiasa. Salam kasih sayang untuk semua,salam optimis,salam mujahadah dan salam perkenalan.

Entri kali adalah mengenai tarbiyah dzatiyah.Sebagai penguat semangat penulis serta muhasabah untuk diri untuk penulis terutamanya dan untuk para sahabat pembaca umumnya.

Tarbiyah adalah satu proses yang panjang, bukan sehari dua tetapi untuk selamanya. Kerana kita sebagai manusia yang sering lupa dan leka memerlukan peringatan setiap hari. Tarbiyah mengajar kita menjadi hamba Allah yang menyedari fungsi mengapa Allah menciptakan manusia.Sebagai seorang da'ie, kita perlu menjaga hubungan sesama manusia dan hubungan dengan Allah SWT.Bagi penulis,yang paling utamanya adalah hubungan dengan Allah SWT. Mana mungkin seorang yang bergelar da'ie itu mampu bertahan dijalan tarbiyah sekiranya hubungan dengan Allah SWT longgar. Di situlah kekuatan untuk 'mengikat' hati manusia kerana sumber yang memberi kekuatan dan tautan hati adalah dari Allah SWT.


Tarbiyah dzhatiyah bagi penulis boleh diibaratkan sebagai 'charger'untuk diri seorang da'ie itu. Kerana segala usaha, segala masalah, segala kekuatan, segala kelemahan serta segala perancangan memerlukan kekuatan rohani yang perlu sentiasa 'full di charge'.Tabiat dakwah sentiasa berkembang dan menyebar ke merata pelusok dunia. Kerana misi dakwah ini adalah menyebarkan rahmat bagi dunia untuk seluruh umat manusia (Al-Anbiya’: 107). Dengan begitu dakwah menjadi hak semua orang agar mereka meraih hidayah Allah. Amatlah pantas semua kalangan mendapatkan nikmat dakwah. Paling tidak, semua manusia dapat merasakan rahmat Islam. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh keperibadian da'ie dan aktivis dakwah.

Peningkatan diri aktivis dakwah selaras dengan perkembangan dakwah. Peningkatan integritas diri secara mandiri inilah yang disebut dengan tarbiyah dzatiyah. Kemampuan tarbiyah dzatiyah menjadikan da'ie mampu bertahan dalam berbagai ujian dan cubaan dakwah. Ia tidak futur (malas dan lesu), tidak kendur semangat dakwahnya, pemikirannya tidak jumud dan tidak akan bimbang dan ragu menjawab berbagai tuduhan miring serta yang sangat diharapkan dari kesan tarbiyah dzatiyah adalah seorang da'ie mampu menyelesaikan persoalan yang menghadangnya.

Utusan-utusan Rasulullah saw. telah membuktikan diri mereka dalam mengembangkan dakwah di berbagai tempat. Mereka dapat bertahan sekalipun jauh dari Rasulullah saw. dan komunitas muslim lainnya. Ja’far bin Abi Thalib di antaranya. Dia dan sahabat lainnya dapat tinggal di Habasyah dalam waktu yang cukup lama. Sekalipun mereka sangat merindukan berkumpul bersama dengan saudara muslim lainnya, mereka dapat mempertahankan dirinya dalam keimanan dan ketaqwaan. Begitu kuatnya daya tahan mereka hidup bersama dakwah jauh dari saudara-saudaranya yang lain dalam waktu yang cukup lama. Hingga Rasulullah saw. begitu bangga terhadap mereka di saat mereka pulang ke Madinah. Beliau menyatakan, “Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah.”


Demikian pula Mush’ab bin Umair sebagai duta Islam pertama dapat mengembangkan dakwah di Madinah dan berhasil membangun masyarakat di sana. Mush’ab sebagai guru pertama di Madinah dapat memperluas jaringan dakwah dan aktivisnya. Sehingga tempat itu menjadi basis komunitas umat Islam di kemudian hari. Dan menjadi tanda peradaban Islam. Begitulah keperibadian aktivis dakwah yang mampan dalam mengembang amanah mulia. Mereka dapat menunaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Lantaran tarbiyah dzatiyah yang ada pada diri mereka.

Malah banyak tugas-tugas lain dapat diselesaikan dengan dipermudahkan. Sebaliknya aktivis dakwah yang tidak mampu meningkatkan integriti dirinya cenderung untuk sambil lewa. Bahkan mungkin akan menimbulkan pergaduhan dalam kerja dakwah. Sebagaimana ungkapan pujangga lama ‘Al-‘askarul ladzi tasuduhul bithalah yujidul musyaghabati, aktivis yang tidak punya kemampuan untuk berbuat sesuatu sangat berpotensi membuat pertengkaran dalam kerja dakwah’.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal: 27)

Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah Al-Mutaharikah (Kepribadian Aktivis Islam)

Tidak dinafikan bahawa Tarbiyah Dzatiyah menjadi keperibadian aktivis Islam. Bahkan Rasulullah SAW menilai hal ini sebagai prasyarat untuk para duta Islam dalam mengembangkan dakwah. Kerananya hal ini menjadi point dalam fit and profer-test bagi mereka yang akan menjalani tugasnya. Sehingga seseorang yang diutus ke suatu tempat, Nabi saw. mempertimbangkan kemampuannya dalam pengembangan integriti dirinya.

Hal ini sebagaimana yang dipertanyakan Rasulullah saw. pada Muadz bin Jabal saat akan diutus ke Yaman. “Wahai Muadz, bila kamu berada di tempat yang baru nanti, jika menemukan suatu persoalan apa yang akan kamu putuskan?” Muadz menjawab, “Aku akan putuskan berdasarkan Kitab Allah.” Rasulullah saw. pun melanjutkan, “Bila tidak kamu temukan pada Kitab Allah, dengan apa kau putuskan?” Jawab Muadz, “Aku akan tetapkan berdasarkan Sunnah Rasulullah.” Nabi SAW kemudian bertanya kembali, “Bila tidak juga kamu dapati di dalamnya, apa yang akan kamu lakukan?” Muadz menjawab, “Aku akan putuskan dengan akal fikiranku (ijtihadku).” Ternyata jawaban Muadz sangat memuaskan hati Rasulullah saw. Malah beliau memandang bahwa kualitas Muadz sudah memadai untuk menggalas tugas mulia tersebut.

Kualiti yang semacam itu diharapkan mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang selalu muncul di lapangan dakwah. Sehingga ia tidak selalu menyerahkan masalah itu pada qiyadah dakwah ataupun aktivis lainnya. Dengan kemampuan itu aktivis dakwah tidak cepat melatah dalam menyingkapi berbagai urusan yang terkait dengan tanggung jawabnya. Karena tanpa sikap itu persoalan dakwah akan bertambah pelik dan menambah beban qiyadah. Telah sering kita dengar qiyadah dakwah mengarahkan agar aktivis tidak selalu mengharapkan jawaban dari pusat atau menunggu bayanatnya. Melainkan mereka perlu menyingkapi dengan cepat apa yang mesti dilakukan untuk menyelesaikan sesuatu masalah.

Meski pun demikian, kita pun perlu melihat secara keseluruhannya agar tidak terjebak dalam membebaskan diri untuk selalu bersikap di luar kendali qiyadah. Kerana ini pun akan menimbulkan 'kerosakan' dalam struktur kendali dakwah. Seperti sikap Hudzaifah ibnul Yaman sewaktu ditugaskan Rasulullah SAW masuk ke barisan musuh. Hudzaifah mendapati Abu Sufyan sedang memanaskan tubuhnya karena udara dingin. Saat itu Hudzaifah mampu untuk membunuhnya, akan tetapi ia teringat pesan Rasulullah SAW bahwa tugasnya waktu itu adalah memperhatikan kondisi musuh dan mengkhabarkan kepada Rasul. Sehingga dia menunggu untuk membunuhnya walau kesempatan itu ada di hadapannya.
Kerana itu perlu menempatkan secara imbang terhadap permasalahan ini. Peningkatan integriti diri dan mematuhi rambu-rambu qiyadah. Yang lebih berbahaya lagi bagi aktivis dakwah adalah bila tidak memiliki keduanya.

Syaikh Hamid ‘Asykariyah menegaskan, “mereka yang sudah tidak mempunyai kebaikan (peningkatan integriti diri dan mematuhi rambu-rambu qiyadah), mereka telah kehilangan kesedaran terhadap kemuliaan dakwah dan kepunahan perilaku taat pada qiyadah. Siapa yang telah kehilangan dua hal ini, maka mereka tidak ada gunanya tetap berada dalam barisan dakwah bersama kita.”

Ada’u Mutathallibatil Manhaj (Menyelesaikan Tuntutan Manhaj)

Manhaj dakwah memberikan ruang yang banyak untuk sarana tarbiyah agar dapat merealisasikannya semaksima yang mungkin. Baik melalui liqaat tarbawiyah, daurah, seminar, mukhayyam ataupun tarbiyah dzatiyah. Untuk mengaplikasikan manhaj dakwah yang begitu banyak dan padat tidaklah memadai dengan sarana tarbiyah regular. Karena keterbatasan lokasi waktu mahupun keterbatasan Murabbi dalam menyelesaikan tuntutan manhaj. Maka tarbiyah dzatiyah menjadi sarana untuk menyelaraskan tuntutan manhaj tersebut.

Oleh karena itu perlu difahami dengan benar pada setiap aktivis dakwah agar dapat melakukan tarbiyah dzatiyah dalam dirinya. Hal ini akan sangat membantu mengaplikasikan nilai-nilai tarbawiyah secara maksima. Dan dapat mencapai arahan manhaj yang menjadi acuan dakwah untuk mewujudkan da'ie yang siap meringankan perjalanan dakwah ini. Bila masing-masing aktivis sibuk untuk merealisasikan manhaj dalam dirinya sebagaimana tuntutan manhaj maka semua aktivis akan aktif dengan berbagai program dan kegiatannya.

Syaikh Abdul Halim Mahmud menyatakan bahwa tarbiyah dzatiyah merupakan tuntutan manhaj dakwah ini. Baik dalam arahannya agar menjadi aktivis dakwah yang siap dan cepat dalam menyambut tugas dakwah. Juga dalam muatannya yang tidak dapat diberikan secara kolektif karena berbagai pertimbangan. Namun diselesaikan secara personal dengan peningkatan kemampuan tarbiyah dzatiyah. Sehingga tampil aktivis yang siap siaga dengan Allah di jalan dakwah.

Tarqiyatu Ath-Thaqah Adz-Dzatiyah (Peningkatan Potensi Diri)

Peranan serta aktivis terhadap dakwah sangatlah dimarakkan agar mereka dapat memberikan kontribusinya dan menjadi bahagian dari dakwah. Da'ie yang dapat melakukan hal ini adalah mereka yang memahami betul potensi dirinya. Potensi yang dapat bermanfaat bagi perjalanan dakwah.

Menajamkan potensi diri menjadi aktivitas rutin. Sayogianya semakin hari semakin tajam potensi yang dimilikinya. Grafik potensinya selalu naik seiring perjalanan waktu. Sebagaimana yang dialami para pendahulu dakwah. Mereka senantiasa berada dalam kondisi puncak setiap bergantinya waktu. Imam Ibrahim Al-Harby selalu berpesan kepada sahabat-sahabatnya dengan ungkapan istimewa. Katanya, “Aku sudah bergaul dengan fulan bin fulan beberapa waktu, siang dan malam. Dan tidak aku jumpai pada dirinya kecuali ia lebih baik dari kemarin.”

Wallahu A'lam..

p/s: kekuatan ku adalah kekuatan mu Ya Allah..kuatkan diri ku, kembalikan semangat ku...sesungguhnya aku bergantung harap hanya padamu..ameen

2 comments:

Muhammad Ibnu Nazir said...

Salam.

In The Name Of Allah.

Alhamdulillah. satu olahan yang menarik. Selamat kembali ke arena tarbiyah siber. Semoga terus istiqomah dlm perjaungan. InsyaAllah.

saniah hj ahmad said...

to Muhammad...

Syukran...alhamdulillah kekuatan ku adalah kekuatan yg Allah titipkan..Allahu Akhbar!!